Rabu, 14 Oktober 2009
Guru Honorer di Bandung Demo
Miris ketika saya membaca berita itu di harian PR, seperti melihat nasib sendiri karena saya tahu berapa sebenarnya seorang guru honorer di bayar, jauh sekali dari standar upah untuk bisa hidup layak. Wajar memang mereka akhirnya terobsesi dengan menjadi PNS, karena tunjangan, gaji dan pensiunan di hari tua pasti minimal menjamin kelangsungan hidup mereka. Teman-temanku sepertinya profesi guru di negeri kita tercinta ini tidak bisa kita jadikan sebagai mata pencaharian, tetap saja kita harus membuka hati dan mata kita untuk melihat peluang lain dalam mencari rezeki tambahan. Sebenarnya kalau mau jujur kita hanya bisa menjadikan profesi ini sebagai pengabdian, karena tak ada uang disitu, tak ada keuntungan disitu yang ada adalah pengabdian.Teman kita tidak usah bersedih dan bingung menghadapi semua peraturan pemerintah yang terasa menyulitkan rasanya tak ada ujungnya, mereka terus menambahkan dan mengait-ngaitkan dengan segala peraturan-peraturan yang lainnya, melelahkan...biarlah semuanya berjalan apa adanya dan kita berjalan dengan harga diri, tak akan serta merta pemerintah mengabulkan begitu saja tentang permintaan-permintaan guru honorer, semuanya tinggal janji, janji yang tak berujung. Apakah kita tidak lebih baik mencari jalan yang lebih terhormat untuk mempertahankan hidup? teman
Kamis, 17 September 2009
Celotehan Siswa
Hari ini saya ingin menuliskan celoteh-celoteh yang menggugah..., ceritanya berawal ketika minggu terakhir sekolah menghadapi libur panjang lebaran. Beberapa kelas sengaja saya tidak masuki karena bahan yang akan saya ajarkan sudah selesai, saya pikir itu sah-sah saja karena disamping minggu itu sudah tidak efektif ditambah lagi ada jadwal sanlat yang diikuti oleh beberapa kelas. Secara tidak sengaja saya bertemu dengan murid-murid kelas X, terdengar celoteh dari mereka, bu kemarin kemana..?bu kenapa hanya sebentar...?ibu mau kemana...?wow...tidak biasanya saya mendengar celotehan murid yang kecewa dengan ketidakhadiran guru..., biasanya mereka suka dengan keadaan seperti itu, malah yang lebih parah kadang mereka minta tugas saja biar guru tidak masuk kelas...., suatu hal yang menakjubkan menurut saya, anak-anak mulai kritis dan bersamangat untuk bisa dan mau belajar apapun itu keadaannya. Suatu perkembangan yang membanggakan...tinggal kembali pada gurunya, apakah ini bisa dijadikan parameter kualitas siswa dan cara mengajar sang guru...?
Jumat, 11 September 2009
Tugas Cinta
Pada suatu hari di ruang guru, terdengar seseorang berbicara ketidakadilan suatu sistem, dia bercerita betapa meruginya dia dalam hal waktu, tenaga dan pikirannya. Dari hari ke hari hanya keluhan dan keluhan yang tercetus, sampai akhirnya semakin banyaklah orang yang mengikuti jejaknya. Saya sangat sedih sekaligus kecewa.., guru memang bukanlah pekerjaan untuk mengeruk uang, bukan disini tempatnya....,kenapa para guru selalu mengeluh? seandainya pekerjaan ini adalah pekerjaan memilih ini adalah pekerjaan yang harus dipilih dengan hati...pada saat kita mengemban tugas dan mempunyai amanah...., berhentilah mengeluh ada sesuatu yang berbeda pada saat kita berhenti mengeluh dan berpaling pada hal yang menakjubkan...yaitu bagaimana kita menghadapi para siswa yang beragam...., are you the real teacher? tugas seorang yang penuh cinta yang bisa melaluinya dengan senyum dan kasih untuk murid-muridnya.....
Senin, 07 September 2009
Sistem Membaca Fokus Tinggi
Persiapan membaca
Carilah azas manfaatnya
Telusuri Bahan Bacaan
Tangerine Technique
Berilah ritme bacaan
Carilah azas manfaatnya
Telusuri Bahan Bacaan
Tangerine Technique
Berilah ritme bacaan
Kamis, 03 September 2009
Muridku Jadi SPG
Haruskan saya bergembira melihat bekas muridku menjadi seorang SPG?jawabannya adalah tidak..., saya sedih, jujur dalam hati saya berharap mereka mendapatkan yang jauh lebih baik tapi bukan berarti jadi SPG itu tidak baik, rasanya wajar saja kalau saya berharap mereka berdiri diatas kemampuannya...bukan pada wajah atau keadaan fisik yang dibalut kosmetik dan baju seksi. Guru, apakah ini hasil dari proses pendidikan atau kebutuhanlah yang menyudutkan kita untuk menjadikan mereka manusia-manusia pekerja bukan manusia-manusia yang berdiri diatas kemampuannya..?The answer is....."PEOPLE NEEDS MONEY", kita berharap lebih pada murid-murid kita, kadang kita juga ingin mengantarkan mereka pada cita-citanya yang tertinggi tapi akhirnya itu semua pilihan..."CHOICE of LIFE" bagaimana mereka memandang hidup dan bagaimana mereka memandang dirinya......doaku adalah yang terbaik untuk kalian semua.............
Selasa, 01 September 2009
Tanpa Persiapan Yang Mematikan
Hari ini saya mengajar murid kelas X dan XI, saya masuk seperti biasa dengan membawa buku-buku paket yang disediakan perpustakaan sekolah. Dalam otak saya sudah ada rencana bahwa hari ini yang kelas X akan saya minta untuk membuat pertanyaan dan jawaban hasil dari eksplorasi mereka tentang Bab II, setelah saya selesai memberi pengarahan..murid-murid saya mengajukan "Complaint". "Bu...bagaimana dengan peta konsep yang sudah kami buat dan bahan perbandingannya..."wah, ternyata saya salah ternyata mereka adalah kelas yang lebih dulu mendapatkan materi dibanding kelas lain, saya benar-benar lupa akan janji saya untuk memberikan hasil yang saya buat sendiri sebagai bahan perbandingan. wah saya benar-benar kecewa terhadap diri saya sendiri selama ini saya ingin membuat mereka kritis dan hasilnya memang kritis...tapi lebih tepatnya mengkritisi saya. Hari ini saya sudah mengecewakan murid-murid saya. Hal seperti ini lah yang membuat mereka mati harapan, kreativitas dan semangat seorang murid, karena dengan kata lain dari pagi mereka berharap apa yang mereka buat mendapatkan penghargaan dari gurunya..., sementara sang guru sibuk dengan urusannya memberi pembelajaran di tempat-tempat lain yang tentunya tidak dalam satu materi yang sama sehingga lupalah materi mana yang akan dibahas. Secara psikologis hal ini sangatlah tidak baik, guru haruslah mempunyai rencana yang matang, output yang bisa dipertanggungjawabkan dan media-media pengajaran yang terinci. Jadi mungkin saya lebih setuju seorang guru hanya mengajar di satu sekolah dengan berfokus pada bidangnya, pendidikan bukanlah lahan mata pencaharian karena disana kita berhadapan dengan manusia-manusia yang 1/2 jadi yang harus kita poles dan arahkan baik dari segi kognitif, afektitif dan motoriknya, wah suatu pertanggung jawaban yang luar biasa karena semuanya itu kita pertanggung jawabkan di depan Allah SWT, bukan kepala sekolah atau pengawas. Yah...inilah pembelajaran sesungguhnya...guru sebaiknya tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada dalam pikirannya saja tetapi terstruktur, dan terkoordinasi...selamat mengambil hikmah, murid-murid itu bagaikan bunga yang akan mekar, apabila kita tidak mempersiapkan tempat tumbuh mereka, mereka akan layu kembali...seperti bunga yang enggan mekar. ....
Media menggambar untuk pembelajaran IPS
Dalam pembelajaran IPS kita merasa bosan untuk menerangkan hal-hal yang sifatnya teori terutama anak-anak murid kita yang notabene konsentrasi dan daya serap mereka terbagi dalam beberapa mata pelajaran. Untuk itu melalui metia gambar diharapkan anak-anak mulai merasakan bahwa belajar IPS itu tidak membosankan. Langkah pertama adalah membuat tugas mengambil intisari dari satu bab dengan cara dan kreasi mereka. Kebetulan kelas yang saya ajarkan adalah kelas senirupa, mereka menerjemahkan apa yang ada dipikiran mereka dengan melalui gambar-gambar yang diciptakan sendiri. Otak kanan mereka cukup dominan untuk bisa menerjemahkan teori pada media gambar. Untuk hasilnya nanti akan saya tampilkan karena materinya akan berlanjut di minggu depan....
Sabtu, 29 Agustus 2009
Coba metode "cooperative learning"
Awal tahun ajaran baru ini, kebetulan saya ngajar IPS, mumpung masih gress tak cobain metode cooperative soalnya ditimbang-timbang nilai sosial, kebersamaan n variasi kemampuan murid sangat menunjang penggunaan metode ini. 3 minggu pertama ada kelas-kelas yang bisa diajak kerjasama tetapi jumlahnya sedikit, ternyata banyak kelas yang "unpredictable" tidak berhasil sepertinya kalao menggunakan metode ini..mereka out of controll...saya benar-benar kewalahan. Akhir cerita saya adakan tes tertulis untuk mengetahui daya serap terhadap metode ini...So the result is untuk kelas yg bisa saya ajak kerjasama hasilnya sesuai KKM tapi untuk yang out of controll di bawah KKM semua...............akhirnya saya harus memilih kelas mana yang akan saya terapkan metode cooperative lerarning, dan kelas lain mungkin metode klasikal saja walaupun itu hanya one way dan tidak membuat anak kritis...tapi saya akan coba dengan beberapa variasi Don't Give Up..
Kamis, 20 Agustus 2009
Apa yang diCari...?
Jadi seorang pengajar itu banyak perjuangannya, pertama kita harus bertatap muka dengan berbagai karakter siswa yang beraneka ragam dengan latar belakang keluarga yang sangat beragam. Selain mendidik ternyata seorang pengajar harus mampu membuat siswa nya benar benar belajar..apa itu artinya? artinya kita sebagai pengajar harus membiasakan mereka mempunyai budaya belajar. Tidak berarti dilepas begitu saja tetapi diberikan panduan untuk mengerti "How to learn". Cukup sulit selama ini saya berusaha menegakkan benang basah, tak pernah terbersit sedikitpun untuk menegakkan kayu atau besi yang memang sudah benar-benar tegak. Di sinilah saya bisa menemukan benang basah tersebut...di sekolah yang terhitung terdiri dari anak-anak menengah kebawah, dari rata-rata orang tua yang berpenghasilan sebagai seorang buruh, dengan budaya keras yang mengajarkan pada mereka untuk bertahan bukan berjuang.Akhirnya mental dan pola pikir yang membuat mereka jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya...Apa yang saya Cari?....jawabannya ada pada mereka..murid-muridku.
Rabu, 12 Agustus 2009
"cooperative learning"
Belajar secara kerja kelompok bukan berarti dinamakan metode cooperative learning, karena untuk mencapai hasil yang maksimal harus ada lima unsur yang harus diterapkan yaitu :
a. saling ketergantungan positif
b. tanggung jawab perseorangan
c. tatap muka
d. komunikasi antaraanggota
e. evaluasi proses kelompok
let see satu per satu:
a. saling ketergantungan positif
untuk menghasilkan kelompok kerja yang efektif, guru harus menyususn tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
b. tanggung jawab perseorangan
unsur ini akibat dari unsur yang pertama, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.
c. tatap muka
setiap kelompok harus mempunyai kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi
d. komunikasi antar anggota
para siswa diharapkan mempunyai ketrampilan berkomunikasi, tentunya aturan main dalam berkomunikasi disiapkan oleh guru yang sebelumnya telah disepakati bersama
e. evaluasi proses kelompok
tentunya guru perlu waktu khusus untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama agar selajutnnya bisa dilaksanakan secara efektif.
a. saling ketergantungan positif
b. tanggung jawab perseorangan
c. tatap muka
d. komunikasi antaraanggota
e. evaluasi proses kelompok
let see satu per satu:
a. saling ketergantungan positif
untuk menghasilkan kelompok kerja yang efektif, guru harus menyususn tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
b. tanggung jawab perseorangan
unsur ini akibat dari unsur yang pertama, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.
c. tatap muka
setiap kelompok harus mempunyai kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi
d. komunikasi antar anggota
para siswa diharapkan mempunyai ketrampilan berkomunikasi, tentunya aturan main dalam berkomunikasi disiapkan oleh guru yang sebelumnya telah disepakati bersama
e. evaluasi proses kelompok
tentunya guru perlu waktu khusus untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama agar selajutnnya bisa dilaksanakan secara efektif.
Langganan:
Postingan (Atom)
